STUDI INFILTRASI TANAH PADA LAHAN ENCLAVE DAN LAHAN KEBUN KELAPA SAWIT PTPN XIII DESA AMBOYO INTI KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK

budiriadi budiriadi

Abstract


STUDI INFILTRASI TANAH  PADA LAHAN ENCLAVE DAN LAHAN KEBUN KELAPA SAWIT PTPN XIII DESA AMBOYO INTI KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK

Budi Riadi(1), Riduansyah(2), dan Junaidi(2)

(1)Mahasiswa fakultas pertanian dan

(2)Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mempelajari laju dan kapasitas infiltrasi pada lahan enclave dan pada kebun kelapa sawit PTPN XIII kecamatan Ngabang kabupaten Landak.Metode yang digunakan dengan pengamatan langsung dilapangan dan pengambilan sampel di lapangan yang di analisis di laboratorium. Parameter yang diamati langsung di lapangan meliputi laju infiltrasi dan muka air tanah dan parameter pengamatan di laboratorium meliputi bobot isi, tekstur, berat jenis partikel, kadar air kapasitas lapangan, porositas, permeabilitas, dan C-organik. Pengukuran infiltrasi tanah dilapangan dilakukan dengan menggunakan infiltrometer ring ganda.Pengambilan sampel tanah yang dianalisis di laboratorium terdiri dari2 yaitu sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu dengan 2 kedalaman, kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Hasil penelitian menunjukan bahawa laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif pada lahan enclave lebih cepat dari pada lahan kebun kelapa sawit, kedalaman muka air tanah pada lahan kebun kelapa sawit lebih tinggi dari pada lahan enclave. Bobot isi tanah pada lahan enclave kedalaman 0 -20 cm dan 20 – 40 cm lebih tinggi dari pada lahankebun kelapa sawit kedalaman, kadar air kapasitas lapang pada lahan kelapa sawit kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm lebih tinggi di bandingkan kadar air kapasitas lapang lahan enclave, Porositas tanah pada kebun kelapa sawit lebih besar di bandingkan dengan lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman 20-40 cm, C-organik tanah pada lahan kelapa sawit lebih tingggi dari lahan enclave sedangkan C-organik tanah. lahan kebun kelapa sawit dan lahan enclave pada kedalaman 20-40 lebih rendah dari kedalaman 0-20 cm,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata kunci :Laju infiltrasi tanah,  lahan kebun kelapa sawit ,lahan enclave.

SOIL INFILTRATION STUDY ON ENCLAVE LAND AND  PALM OIL LAND IN PTPN XIII AMBOYO INTI VILLAGE, NGABANG SUBDISTRICT, LANDAK REGENCY

Budi Riadi(1), Riduansyah (2), dan Junaidi(2)

(1), faculty of agriculture and

(2)Lecturer of the faculty of agriculture,Universitas Tanjungpura Pontianak

ABTRACT

This study aims to of infiltration and infiltration rate a land enclave and a palm oil PTPN XIII  Ngabang District, Landak Regency. The method used is observation directly field and take samples in the field to analysis in laboratory. Obsevation parameters in the field is infiltration and the water soil dept surface. Obsevation parameters in laboratory is buld density , soil texture, specific gravity of the particles, the water content of field capacity, porosity, permeability, andC-organic.Themeasuring soil infiltration on the field used fold infiltrometres. The take samples for Analysis in laboratory there 2 namely intact sample  and disturbsample with 2 dept, a dept 0-20 cm and 20-40 cm. The results showed that infiltration rate and infiltration capacity on the lands enclave more quick than lands palm, the water soil dept surfaceon palm oil land  more than on the enclave land. The buld density on the enclave land at a dept 0-20 cm and 20 -40 cm more than on the palm oil lands,the water, content, of field capacity on the  palm oil land more than on the enclave land at a dept 0-20 cm and 20-40 cm, the soil porosity on the palm oil land at a dept 0-20 cm and 20-40 cm more than enclave land, the C-organic  on the palm oil land more than enclave land and C-organic on the palm oil land and enclave land at a dept 20-40lowets than at a dept 0-20 cm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords. Soil infiltration rate, palm oil land, enclave land

PENDAHULUAN

Tanah (soil) merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman (Syamsuddin, 2012). Tanah mempunyai ciri fisik yang saling berbeda di suatu bidang dengan bidang lainnya. Setiap bidang tanah itu sangat unik dan letak atau lokasi tanah itu merupakan sifat/ciri yang sangat penting.

Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan atau menunggu hujan. Lahan ini mempunyai kondisi agro-ekosistem yang beragam, pada umumnya berlereng dan dengan kondisi kemantapan lahan yang labil (peka terhadap erosi) terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah,  pertanian lahan kering : pertanian yang mengandalkan musim hujan karena hanya air hujan sebagai pasokan kebutuhan air bagi tanaman. Pada umumnya lahan kering berada pada ketinggin 500 - 1500 m diatas permukaan laut.

Infiltrasi merupakan bagian dari siklus hidrologi yang berhubungan dengan kandungan air tanah dan simpanan air bawah tanah (ground water).Kapasitas infiltrasisuatu tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah yaitu tekstur, struktur dan kandungan air tanah. Air hujan ketika jatuh diatas permukaan tanah, tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk kedalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah.

Penelitian ini bertujuan untukmempelajari laju infiltasi dan kapasitas infiltrasi pada lahan enclave dan kebun kelapa sawit.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Amboyo Inti Kabupaten Landak. Lokasi penelitian ini merupakan  perkebunan kalapa sawit. Penelitian berlangsung pada bulan desember 2015 sampai bulan januari 2016, mulai dari persiapan sampai penyajian data.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ring sampel, meterán, kayu pengukur, penggaris, kamera, Kompas/GPS, karet gelang, infiltrometer ring ganda, oven, alat tulis dan kertas label, sedangkan Bahan yang digunakan adalah peta lokasi penelitian, peta titik pengamatan, peta jenis tanah, peta kelerengan, Sampel tanah utuh dan terganggu dan bahan-bahan kimia untuk analisis di laboratorium, Peta titik pengamatan dapat dilihat pada (hal 6).

Pengukuran infiltrasi tanah dilapangan dilakukan dengan menggunakan infiltrometer ring ganda. Pengambilan sampel tanah untuk analisis di laboratorium diambil pada lahan enclave dan lahan kebun kelapa sawit dengan 2 kedalaman yaitu kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Penelitian dilakukan  dengan pengamatan langsung di lapangan dan pengambilan sampel di lapangan yang di analisis di laboratorium. Parameter yang diamati langsung di lapangan meliputi laju infiltrasi dan muka air tanah dan parameter pengamatan di laboratorium meliputi bobot isi, tekstur, berat jenis partikel, kadar air kapasitas lapangan, porositas, permeabilitas, dan C-organik.

 


 

Berdasarkan peta titik pengamatan di lapangan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

 

Gambar.Peta titik pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan di Lapangan­­

  1. 1. Kedalaman Muka Air Tanah.

Berdasarkan hasil pengamatan kedalaman muka air tanah di lapangan dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini :

 

Gambar 2. Kedalaman Muka Air Tanah

Hasil penelitian menunjukan bahwa kedalaman muka air tanah kebun kelapa sawit lebih tinggi dari pada kedalaman muka air tanah lahan enclave pada pengamatan saat dilapangan.Kedalaman muka air tanah di dipengaruhi oleh tinggi muka air di saluran drainase.Semakin tinggi muka air tanah pada saluran drainase maka kedalaman muka air tanah semakin dangkal.Pada lahan enclave muka air tanah pada saluran drainase lebih tinggi dari pada di lahan kelapa sawit. Faktor lain yang mempengaruhi kedalaman muka air tanah pada lahan enclave lebih dangkal dari pada lahan kelapa sawit  adalah karena lahan enclave lebih dominan terdapat pada daerah cekungan atau daerah yang lebih rendah sedangkan kebun kelapa sawit terdapat pada pada dataran yang lebih tinggi.


2. Laju Infiltrasi

Berdasarkan hasil pengamatan kedalaman muka air tanah di lapangan dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini :

 

Gambar 3. Laju infiltasi dan kapasitas infiltrasi kumulatif

Berdasarkan data hasil penelitian di lapangan pada lahan kelapa sawit laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif masing-masing adalah 3,830 dan 8,084,  pada lahanenclave laju infiltrasi adalah 9,898 dan infiltrasi kumulatif adalah20,390. Berdasarkan hasil penelitian pada lahan enclave laju infiltrasi dan infiltrasi kumulatif lebih cepat dibadingankan dengan kebun kelapa sawit, hal ini disebabkan karena kandungan pasir pada lahan enclave lebih tinggi dibandingakn pada lahan kelapa sawit.Tanah dengan tekstur kasar (berpasir) memiliki pori-pori berukuran besar. Menurut Arsyad (1989), laju masuknya air ke dalam tanah ditentukan terutama oleh ukuran dan susunan pori-pori besar tersebut.  Pori-pori ini dinamai porositas aerasi karena mempunyai diameter yang cukup besar (sama dengan dan lebih besar dari 0,06 milimeter) yang memungkinkan air keluar dengan cepat sehingga tanah beraerasi baik. Pori-pori tersebut juga memungkinkan udara keluar dari tanah sehingga air dapat masuk.


B. Hasil Analisis di Laboratorium

  1. 1. Tekstur Tanah

Berdasarkan hasil analisis laboratorium maka dapat dilihata pada tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Fraksi tanah

No.

Lokasi

Kedalaman

(cm)

Pasir

(%)

Debu

(%)

Liat

(%)

Kelas Tekstur Tanah

1

Kebun kelapa sawit

0-20

52,89

18,70

28,41

Lempung liat bepasir (Sandy clay loam)

20-40

47,04

20,78

32,18

Lempung liat berpasir (Sandy clay loam)

2

Lahan enclave

0-20

72,79

11,94

15,27

Lempung berpasir

(sandy loam)

20-40

70,94

11,78

16,28

Lempung  berpasir

(Sandy loam)

Sumber : Hasil Pengukuran di Laboratorium (2015)

 

Dari hasil analisis tekstur di laboratorium dapat di lihat bahwa kelas tekstur tanah pada Kebun Kelapa Sawit dengan kedalaman 0-20cm dan 20-40 cm adalah lempung liat berpasir, sedangkan pada lahan enclave kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm adalah lempung berpasir.

Dalam Hanafiah (2005) dikatakan bahwa, tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (besar) di sebut lebih poreus, tanah yang di dominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso(sedang) agak poreus, sedangkan yang didominasi liat akan mempunyai pori-pori mikro (kecil) atau tidak poreus, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya menahan tanah terhadap air, energy atau bahan lain, dan sebaliknya jika liat yang dominan.


 

2. Bobot Isi Tanah(g/cm³)

Berdasarkan hasil analisis laboratorium maka dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini :

 

Gambar 4.  Diagram Batang Nilai Rerata Bobot Isi Tanah

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa rata-rata bobot isi pada lahan enclave sedikit lebih tinggi dari pada lahan kelapa sawit baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman  20-40 cm, hal ini dipengaruhi oleh tekstur tanah pada kedua lahan tersebut. Tekstur tanah pada lahan kelapa sawit termasuk kedalam lempung liat berpasir dan tekstur tanah pada lahan enclave termasuk kedalam kelas liat berpasir. Soepardi (1983) menyatakan bahwa butir pasir biasanya berdekatan satu sama lain sehingga menghasilkan Bulk Density tinggi, di samping itu tanah berpasir kadar bahan organiknya rendah. Tanah dengan bahan organik yang tinggi mempunyai berat volume yang relatif rendah, ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa kandungan bahan orgaik  tanah pada lahan kelapa sawit lebih tinggi sehingga bobot isi tanh lebih rendah dari pada lahan enclave.

 


 

3. Porositas Total Tanah (%)

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini :

 

Gambar 5.  Diagram Batang Nilai Rerata porositas total tanah (%)

Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa porositas tanah pada kebun kelapa sawit lebih besar di bandingkan dengan lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 cm maupun pada kedalaman 20-40 cm,  hal ini disebakan oleh tekstur tanah pada kedua lahan tersebut. Tekstur tanah pada lahan kelapa sawit termasuk kedalam kelas lempung berliat dan tekstur tanah pada lahan enclave termasuk kedalam kelas liat berpasir, tanah yang berpasir porositasnya akan lebih rendah, hal ini sesuai dengan pernyataan  Foth (1994) yang menyatakan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositas lebih kecil dari pada tanah liat. Tanah berpasir mempunyai volume yang lebih sedikit yang ditempati oleh ruang pori. Air selalu  bergerak lebih cepat melalui tanah pasir daripada tanah liat.

4. Kadar Air Tanah (%Vol)

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 6 di bawah ini :

 

Gambar 6.  Diagram Batang Nilai Rerata kadar air tanah (%)

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa rata-rata persentase kadar air pada lahan kelapa sawit kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm lebih tinggi dibandingkan rata- rata persentase kadar air kapasitas lapang lahan enclave, hal ini disebabkan karena tekstur yang dimiliki oleh pada lahan kelapa sawit adalah tekstur liat berpasir sehingga kemampuan mengikat air rendah. Tanah yang bertekstur pasir, butir – butirnya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap atau menahan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (2003), yang menyatakan bahwa  tanah–tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus.

5. Permeabiltas Tanah (cm/jam)

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 7 dibawah ini :

 

Gambar 7.  Diagram Batang Nilai Rerata permeabilitas tanah (%) pada Kebun kelapa sawit dan lahan enclave Kedalaman Tanah 0-20cm dan  20-40cm.

Hasil penelitian menunjukan bahwa permeabilitas tanah pada lahan enclavekedalaman 0-20cm dan 20-40cm lebih tinggi dibandingkan dengan permeabilitas tanah kebun kelapa sawit. Hal ini di sebabkan oleh tingginya kandungan pasir pada lahan enclave di bandingkan kandungan pasir pada kebun kelapa sawit. Tanah dengan kandungan pasir yang tingggi memiliki pori-pori makro sedikit, sehingga luas permukaan yang disentuh bahan menjadi sangat sempit, sehingga   daya   pegang   terhadap   air   sangat   lemah.   Kondisi   ini menyebabkan air dan udara mudah masuk keluar tanah,


 

hanya sedikit air yang tertahan. Sebagian besar ruang pori terisi oleh  udara sehingga pori-pori makro disebut juga pori drainase tinggi karena proses kehilangan airnya sangat cepat. (Hanafiah,2007).

6. Bahan organik tanah (%)

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium dapat dilihat pada gambar 8dibawah ini :

 

Gambar 8.  Diagram Batang Nilai Rerata Bahan Organik Tanah (%)

Berdasarkan hasil analisis tanah di laboratorium menunjukkan bahwa tanah pada lokasi penelitian memiliki kandungan bahan organik tanah yang yang tergolong sangat rendah.Bahan organik yang paling tinggi di antara kedua lahan tersebut adalah pada kebun kelapa sawit di bandingkan dengan lahan enclave. Hal ini disebabkan karena pada kebun kelapa sawit daun-daun sisa proses pemanenan maupun rumput-rumput yang berada di sekitar kebun tertahan dan mengendap pada lahan tersebut dan tidak hanyut terbawa air hujan, sehingga serasah-serasah dari pohon akan menjadi bahan organik.

Soepardi (1983) mengatakan, adanya humus dan tanah bertekstur halus sangat membantu mengurangi pengaruh buruk liat terhadap struktur tanah. Pengaruh bahan organik terhadap ciri tanah adalah pengaruh terhadap warna (coklat sampai hitam), pengaruh terhadap fisik seperti: merangsang granulasi; menurunkan plastisitas, dan kohesi; meningkatkan kemampuan menahan air. Dari warna itu kita dapat menarik kesimpulan tentang iklim daerah di mana tanah itu di jumpai.Satu hal yang perlu di ingat adalah tanah bukan suatu ukuran pasti mengenai jumlah humus yang terdapat dalam tanah.


 

Pengaruh menguntungkan dari serapan senyawa organik yang berjumlah sedikit ialah turut di serapnya beberapa zat tumbuh dan mungkin beberapa vitamin juga ikut terserap.Bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin dan pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan juga jasad mikro.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, analisis di Laboratorium, analisis data, dan pembahasan yang terbatas pada lingkup penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tekstur tanah pada lokasi penelitian didominasi oleh fraksi pasir.
  2. Berdasarkan uji t bobot isi tanah dan porositas  pada kebun kelapa sawit dan lahan enclave menunjukkan bahwa dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm berbeda tidak nyata. Kadar air tanah pada kedalaman 0-20 cm tidak berbeda nyata sedangkan pada kedalaman 20-40 cm berbeda nyata. Permeabilitas tanah, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi kumulatif berbeda sangat nyata.
  3. Bobot isi tanah pada lahan enclave lebih tinggi dibandingkan dengan kebun kalapa sawit. Porositas pada lahan kebun kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan lahan enclave. Kadar air tanah kapasitas lapang pada pada lahan kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan lahan enclave. Permeabilitas pada lahan enclave lebih tinggi dibandingkan dengan lahan kelapa sawit. Bahan organik tanah pada kedalaman 0-20 cm pada lahan kelapa sawit lebih tinggi dari pada lahan enclave baik pada kedalaman 0-20 maupun 20-40 cm.
  4. Kedalaman muka air tanah tiap titik pengamatan pada kebun kelapa sawit, Pada semua titik > 120 cm dan pada lahan enclave 89-99cm.
  5. Laju infiltrasi pada lahan enclave lebih cepat daripada lahan kelapa sawit. Pada lahan enclave laju infiltrasi sebesar 9,898 cm/jam dan pada kebun kelapa sawit sebesar 3,830 cm/jam.

B.  Saran

  1. Pengukuran infiltrasi di lapangan harus memperhatikan kondisi lingkungan seperti persentase lereng dan kondisi pohon karena sangat menentukan tinggi rendahnya laju infiltrasi.
  2. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang laju infiltrasi pada berbagai tipe pemanfatan lahan dan hubungan laju infiltrasi dengan sifat fisika dan kimia yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad S., 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.

Foth H. D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Edisi 6. Adisoemarto S. Jakarta:

Erlangga. Terjemahan dari: Fundamental of Soil Science

Hakim N. M. Y., Nyakpa A. M., Lubis S. G., Nugroho M. R., Soil M. A., Diha G. B., Hong dan H.H. Barley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Devisi Buku Perguruan Tnggi PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2003.  Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta:

Akademika Pressindo.

Soepardi. 1983.Sifat Dan Ciri Tanah.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.