PERLUASAN WILAYAH ISRAEL DI PALESTINA DITINJAU DARI HUKUM INTERNASIONAL

MURSAYINAH - A011111126

Abstract


Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas  hukum  yang  mengatur  hubungan  atau  persoalan  yang melintasi batas-batas negara-negara dalam hubungan internasional.  Salah  satu  contoh  konflik  internasional  yang  menjadi  perhatian masyarakat dunia adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah yaitu konflik antara Israel-Palestina. Banyak aspek yang  mempengaruhi konflik  Israel-Palestina,  mulai  dari  aspek  permasalahan  mendasar yaitu kepentingan dari kedua pihak untuk menguasai wilayah yang sama,  sampai  dikaitkan  dengan  permasalahan  dari  aspek  sejarah, budaya, agama, ekonomi, dan sebagainya. Metode  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah penelitian  hukum  normatif  dengan  pendekatan  secara  pendekatan sejarah  (historical  approach)  dilakukan  dengan  mengkaji  latar belakang apa yang terjadi dan perkembangan pengaturan mengenai isu yang dihadapi, serta pendekatan dari Konvensi-Konvensi dalam hukum Internasional serta peraturan-peraturan lainnya.

Pembagian wilayah antara israel dan Palestina hingga saat ini belum efektif dilaksanakan, bahkan dilanggar oleh Israel.

a. Perjanjian  Oslo  I  (1993)  :  Israel  terus  menerus membangun  pemukiman  Yahudi  di  wilayah  Palestina,  kini jumlah pemukiman Yahudi di Palestina meningkat dua kali lipat, dari 231 ribu kini menjadi 570 ribu. Palestina hanya menguasi 40%  dari  Tepi  Barat.  Israel  juga  tidak  menepati  janji  untuk menarik pasukan militernya dari Jalur Gaza dan Jericho. b.  Pelanggaran  Perjanjian  Oslo  II  (1995)  :  Israel  terus  berupaya untuk menguasai wilayah itu sendirian. Selain itu, Otoritas Israel menghancurkan  bangunan  milik  warga  Palestina  di  “Area  C” Tepi Barat.  Tindakan  perluasan  wilayah  Israel  terhadap  Palestina dikategorikan  sebagai  Aneksasi  (annexation).  Aneksasi (annexation) adalah perolehan wilayah secara paksa, istilah lainnya adalah  penaklukan.  Piagam  PBB  Pasal  2  ayat  4  dengan  jelas menyatakan larangan untuk menambah wilayah dengan kekerasan.

Berikut  bunyi  pasal  tersebut  : Dalam  melaksanakan  hubungan internasional,  semua  anggota  harus  mencegah  tindakan-tindakan yang  berupa  ancaman  atau  kekerasan  terhadap  kedaulatan  atau kemerdekaan politik Negara lain.  Harus ada tekanan dunia Internasional kepada Israel untuk mematuhi segala perjajian damai yang telah dibuat antara Israel dan Palestina. Status hukum dari perluasan wilayah yang dilakukan oleh Isarel ini dengan cara Aneksasi (annexation) adalah non legal.  Kata  Kunci:  Hukum  Internasional,  Israel-Palestina,  Aneksasi (annexation),  Perjanjian  Oslo  I  (1993),  Perjanjian  Oslo  II (1995), Piagam PBB.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Powered By : Team Journal - Faculty of Law - Tanjungpura University 2013