ANALISIS PENERAPAN SAK ETAP PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PENGGILINGAN PADI

Fatwa B41109021 fatwa B41109021

Abstract


ANALISIS PENERAPAN SAK ETAP

PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM)

PENGGILINGAN PADI

Fatwa

Program Studi S-1 Jurusan Akuntansi

Universitas Tanjung Pura

Email.fatwa27@yahoo.co.id

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui penyusunan laporan keuangan UKM Penggilingan Padi, 2) Untuk mengetahui UMKM Penggilingan Padi sudah menerapkan PSAK ETAP?, 3) Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP pada UMKM. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana UKM Penggilingan Padi menyajikan laporan keuangannya, diikuti dengan mempelajari buku-buku literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian. Analisis yang digunakan adalah SAK ETAP. Penelitian menyimpulkan sebagai berikut: 1) Dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan, serta uraian-uraian yang telah dikemukakan bahwa UKM Penggilingan Padi belum menerapkan SAK ETAP, laporan-laporan yang disajikan oleh UKM Penggilingan Padi hanya berupa Neraca dan Laporan Laba/Rugi saja, jelas kurang sesuai karena dalam prosedural pelaporan keuangan yang berdasarkan SAK ETAP  yaitu  Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas, Catatan Atas Laporan Keuangan. Maka dari itu penulis melakukan implementasi laporan keuangan sesuai dengan SAK ETAP agar UKM Penggilingan Padi dapat menerapkannya, 2) Keberadaan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang diperuntukan untuk usaha kecil dan menengah, keberadaannya belum banyak diketahui oleh para pemilik UKM dan masih rendahnya pemahaman  SAK ini, 3) Kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam menyusun laporan keuangan. Serta tidak pernah mengikuti pelatihan tentang pelaporan keuangan akuntansi, 4) Tidak  adanya  pembagian  tugas  yang  jelas  antar  bidang  karena  pemilik  sekaligus menjadi  pengelola  usaha.  Pemilik  mengelola  usaha  sendiri, sehinga waktu  yang dimiliki  difokuskan  untuk  mengembangkan  usahanya dan 5) Tidak adanya keharusan penggunaan SAK ETAP dari pemerintah

 

Kata Kunci: SAK ETAP, UKM

 


  1. A. Latar Belakang

Setiap usaha diharapkan mempunyai laporan keuangan untuk menganalisis kinerja keuangan sehingga dapat memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

Namun praktek akuntansi keuangan pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masih rendah dan memiliki banyak kelemahan (Suhairi, 2014). Kurangnya kemampuan pelaku UKM dalam bidang pengelolaan usaha juga termasuk kendala yang dihadapi UKM, antara lain rendahnya pendidikan dan kurangnya pemahaman pelaku UKM tersebut dalam bidang akuntansi (Benjamin, 1990). Biasanya pembukuan UKM dilakukan dengan cara-cara sederhana dan tidak detail (Krisdiartiwi, 2011).

Semakin berkembangnya usaha, menuntut UKM untuk berhubungan dengan pihak eksternal perusahaan. Misalnya untuk meningkatkan pendanaan UKM akan berhubungan dengan pihak bank/ lembaga keuangan lainnya. Pihak bank/ lembaga keuangan tersebut biasanya akan mensyaratkan laporan keuangan untuk menilai kelayakan kredit dari UKM. Demikian juga ketika UKM akan mengikuti lelang pengadaan barang maupun jasa yang diadakan oleh pihak rekanan, pihak rekanan biasanya akan meminta laporan keuangan sebagai syarat kelengkapan administratif. Dengan demikian semakin berkembangnya usaha, menuntut UKM untuk menyediakan laporan keuangannya dengan baik sesuai standar yang berlaku.

Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tanggal 17 Juli 2014 dan berlaku efektif 1 Januari 2011. Diterbitkannya SAK ETAP bertujuan untuk diimplementasikan pada entitas tanpa akuntabilitas publik. Pada umumnya, UKM adalah entitas tanpa akuntabilitas publik karena UKM pada umumnya belum memiliki akuntabilitas publik signifikan dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial stetment).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi UKM dalam menyusun laporan keuangan berbasis SAK ETAP serta untuk merancang sistem akuntansi sederhana yang dapat membantu dan memudahkan para pemilik UKM dalam membuat laporan keuanganberbasis SAK ETAP. Dengan laporan keuangan tersebut diharapkan pemilik UKM dapat mengevaluasi usahanya serta dapat menggunakan informasi dalam laporan keuangan tersebut sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bisnisnya.

Besarnya potensi UKM yang ada saat ini ternyata belum sebanding dengan tingkat kemajuan UKM. Dalam melakukan kegiatan UKM masih menghadapi beberapa masalah. Masalah yang mempunyai bagian yang cukup besar yaitu masalah modal, teknologi, dan keahlian manajerial (Soetrisno,2015).

Salah satu masalah UKM adalah pengelolaan keuangan dan permodalan dimana UKM masih menghadapi kendala yang cukup serius. Fenomena yang terjadi adalah UKM menghadapi kendala permodalan dan sedikitnya para investor yang bersedia meminjamkan atau menanamkan modalnya pada UKM walaupun menghasilkan laba yang cukup besar. Alasan mendasar adalah UKM tersebut tidak dapat menunjukkan bukti operasional dan keuntungan perusahaan dalam bentuk laporan keuangan. Menurut Krisdiartiwi (2011:1) selama ini pembukuan sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan "kurang begitu penting" dalam membangun bisnis. Padahal, bagi sebuah perusahaan, pembukuan sangat diperlukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan. Tak hanya bagi perusahaan besar, pembukuan juga mutlak diperlukan bagi usaha kecil menengah atau UKM.

Adanya laporan keuangan membuat pihak luar dapat menganalisis kelayakan pemberian kredit atas permohonan yang diajukan. Laporan keuangan yang menggambarkan kondisi yang sebenarnya akan sangat membantu proses evaluasi kelayakan kredit. Namun sebagian besar UKM belum mampu menyediakan informasi keuangan dengan benar dan teratur sehingga mereka mengalami kendala dalam mengajukan kredit pada lembaga formal seperti pihak perbankan.

Semua pihak menyadari pentingnya akuntansi dalam sebuah bisnis, tetapi UKM di Indonesia belum secara baik mempraktikkannya. Sehingga UKM tidak dapat mengetahui prestasi kerja dan kesulitan dalam pengajuan kredit ke lembaga formal. Kita tidak bisa menyalahkan UKM yang selalu enggan melakukan pembukuan transaksi dan bervariasinya pelaporan keuangan UKM, karena PSAK umum yang terlalu rumit untuk usaha sektor kecil. SAK ETAP ini akan membantu perusahaan kecil menengah dalam menyediakan pelaporan keuangan yang tetap relevan dan andal. SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk UKM dibandingkan dengan PSAK umum, perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.

Kehadiran SAK ETAP dengan prinsip kesederhanaan dapat memberikan kemudahan UKM dalam menyajikan laporan keuangan. Standar ETAP diharapkan memberi kebebasan berbisnis, kebebasan berinvestasi dan membangun ekonomi kerakyatan berbasis UKM bagi Indonesia. Dengan aplikasi SAK ETAP dalam dunia UKM membuat tumbuh suburnya UKM. Selain itu SAK ETAP juga memberi kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Namun pada kenyataannya SAK ETAP belum banyak diterapkan para pelaku UKM dalam menyusun laporan keuangan.di Indonesia khususnya yang ada di Kota Pontianak dalam menyusun laporan keuangan.

Pada penelitian awal UKM Penggilingan Padi yang dilakukan oleh pengusaha penggilingan padi belum sepenuhnya menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP. Hal ini dapat dilihat tidak adanya perhitungan laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan untuk UKM ini. UKM ini hanya menyusun laporan laba rugi dan neraca secara sederhana. Berikut laporan laba rugi dan neraca pada UKM Penggilingan Padi. Laporan keuangan yang ditampilkan hanyalah pencatatan transaksi bulanan yang diikuti laporan laba rugi, neraca diakhir periode. Artinya penyusunan yang sesuai dengan standar SAK ETAP belum diimplementasikan secara penuh. Sedangkan laporan dalam SAK ETAP (2014:3.12) meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan laporan keuangan

Tabel 1.1

Penggilingan Padi

Laporan Laba Rugi

Periode Januari - Desember 2015


Sumber: Data Primer Laporan keuangan Penggilingan Padi 2016

Berdasarkan laporan keuangan yang dibuat untuk Penggilingan Padi yang masih sangat sederhana dan belum menunjukan penerapan standar akuntansi apapun maka penulis tertarik untuk membuat penelitian yang berjudul “ANALISIS PENERAPAN SAK ETAP PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PENGGILINGAN PADI”.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana penerapan SAK ETAP dalam penyusunan laporan keuangan UKM Penggilingan Padi?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP pada UMKM Penggilingan Padi?
  3. C. Tujuan Penilitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui penerapan SAK ETAP dalam penyusunan laporan keuangan UKM Penggilingan Padi.
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP pada UMKM.
  3. D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dalam penelitian ini adalah:

 

  1. UMKM Penggilingan Padi

Dapat memanfaatkan hasil penelitian dalam upaya untuk membenahi laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP.

  1. Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu akuntansi dan menjadi salah satu tambahan referensi bagi rekan mahasiswa dan pihak-pihak lain yang berminat dan ingin melakukan penelitian lebih lanjut.

  1. Pihak lain atau pelaku UMKM

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat dan mendorong pelaku UKM membuat laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi dan menjalankan usaha yang lebih profesional.

 

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Akuntansi dan Laporan Keuangan
  2. 1. Pengertian Akuntansi dan Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2011:5) mengatakan bahwa, “Akuntansi adalah menyangkut angka-angka yang akan dijadikan dasar dalam proses pengambilan keputusan, angka itu menyangkut uang atau nilai moneter yang menggambarkan catatan dari transaksi perusahaan“. Menurut Prawironegoro dan Purwanti (2014:2-3) informasi akuntansi itu memiliki tiga tujuan yaitu memberi pelaporan kepada manajemen untuk:

  1. Membuat keputusan-keputusan rutin bisnis (kegiatan operasi) dan keputusan-keputusan khusus (investasi jangka panjang).
  2. Memberikan pelaporan kepada pihak luar perusahaan yaitu pemegang saham, jawatan pajak, lembaga keuangan dan lain-lain.
  3. Memberi informasi kepada pihak dalam perusahaan yaitu kepada berbagai level manajemen.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi merupakan aktivitas jasa penyedia informasi tentang bisnis dan transaksi keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan yang berguna bagi pengambil kebujakan ekonomi. Agar laporan keuangan yang dibuat memenuhi syarat ketentuan akuntansi maka diperlukan adanya standar akuntansi yang menjadi pedoman dalam menyusun laporan keuangan. Mulya (2010:14) mengatakan, tujuan standar akuntansi keuangan yaitu “ menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan untuk tuuan umum, yang selanjutnya disebut laporan keuangan agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan perusahaan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan perusahaan lain’’.

Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan sebuah organisasi. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan hasil proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai sarana mengkomunikasikan informasi keuangan terutama kepada pihak eksternal. Menurut Soemarsono (2014: 34) “Laporan keuangan adalah laporan yang dirancang untuk para pembuat keputusan, terutama pihak diluar perusahaan, mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan”. Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2014), “ Laporan Keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas”.

SAK ETAP (2014:2.1) menyatakan bahwa, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonimi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporak keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu.

Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa laporan keuangan merupakan produk akhir yang penting dari proses pelaporan keuangan dan alat utama para manajer untuk menunjukan efektifitas pencapaian tujuan dan untuk melaksanakan fungsi pertanggung jawaban dalam organisasi. Laporan keuangan pada dasarnya memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk membuat proyeksi pada masa mendatang, sehingga informasi ini dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap lapran tersebut.

  1. 2. Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik merupakan standar yang dapt menjadi pedoman bagi usaha kecil dan menengah dalam membuat laporan keuangan. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlihat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

Menurut SAK ETAP (2014:1.1) tentang standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik, Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:

  1. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
  2. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.

Entitas memiliki akuntabilitas publik jika:

  1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal;atau
  2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.

 

  1. 3. Penyajian Laporan Keuangan

Penyajian wajar dalam laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP (2014:3,2) ialah: Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban. Penerapan SAK ETAP, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, menghasilkan laporan keuangan yang wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas. Pengungkapan tambahan diperlukan ketika kepatuhan atas persyaratan tertentu dalam SAK ETAP tidak memadai bagi pemakai untuk memahami pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain atas posisi keuangan dan kinerja entitas.

Laporan keuangan entitas dalam SAK ETAP (2014:3.12) meliputi:

  1. Neraca
  2. Laporan laba rugi

Kieso (2011:140) mengatakan, bahwa laporan laba rugi  adalah “laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan selama periode waktu tertentu’’. Sedangkan menurut Rudianto (2014:15) laporan laba rugi adalah “suatu laporan yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dalam suatu periode akuntansi atau satu tahun”.

Berdasarkan SAK ETAP (2014:5.1) laporan laba rugi menyajikan penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode. Dalam penyajiannya laporan laba rugi memasukan semua pos penghasilan dan beban dalam satu periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain.

Menurut SAK ETAP (2014:5.3) informasi dalam laporan laba rugi meliputi pos pos sebagai berikut:

a)    Pendapatan

b)   Beban keuangan

c)    Bagian laba atau rugi dari investasi

d)   Metode ekuitas

e)    Beban pajak

f)    Laba atau rugi neto.

  1. Laporan perubahan ekuitas

Menurut SAK ETAP (2014:6.2) laporan perubahan ekuitas bertujuan menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, dan (tergantung pada format laporan keuangan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas) jumlah investasi oleh, dan dividen distribusi lain ke pemilik ekuitas selama periode tersebut.

  1. Laporan arus kas

Berdasarkan SAK ETAP (2014:8) Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Menurut Rudianto (2014:17) laporan arus kas ialah’’suatu laporan yang menunjukan aliran uang yang diterima dan digunakan perusahaan didalam satu periode akuntansi, beserta sumber-sumbernya”. Selanjutnya Kieso (2011:306) menyatakan, bahwa tujuan utama dari laporan arus kas adalah “untuk memberikan informasi tentang penerimaan kas dan pengeluaran kas entitas selama satu periode. Tujuan lainnya adalah untuk menyediakan informasi tentang kegiatan operasi, investasi dan pembiayaan entitas tersebut atas dasar kas”.

Informasi yang dihasilkan dalam laporan arus kas menurut SAK ETAP (2014:7.3) ialah informasi tentang aktifitas operasi, aktifitas invetasi,dan aktifitas pendanaan.

  1. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

 

METODE

  1. A. Jenis Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode yang berusaha memberikan gambaran mengenai data berdasarkan fakta-fakta yang didapat peneliti, proses penelitian yang dilakukan melalui pengukuran dengan alat yang baku, menguraikan karakteristik tentang keadaan dan sifat-sifat yang sebenarnya dari objek penelitian (Patilima: 2013). dan dalam penelitian ini tidak dilakukan manipulasi, hanya menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana UKM Penggilingan Padi menyajikan laporan keuangannya, diikuti dengan mempelajari buku-buku literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian.

  1. B. Teknik pengumpulan data
  2. 1. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi yaitu melakukan pengumpulan data yang diperoleh dari UKM Penggilingan Padi serta mempelajari teori-teori yang ada dalam literatur dan bahan-bahan tulisan lainnya yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.

  1. 2. Penelitian Kepustakan (Library Research)

Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Dalam penelitian ini penulis akan memfokuskan pada Standar Akuntansi Keuangan Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

  1. 3. Alat Analisis yang Digunakan

Dalam melakukan teknik analisis data maka penulis melakukan dengan metode kualitatif. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk mengetahui pengolahan transaksi keuangan pada UKM Penggilingan Padi hingga menjadi laporan keuangan. Adapun bentuk alat analisis yang digunakan adalah :

  1. C. Analisis SAK ETAP

SAK ETAP merupakan standar yang dapat menjadi pedoman bagi usaha kecil dan menengah dalam membuat laporan keuangan. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.

Laporan keuangan entitas dalam SAK ETAP  meliputi:

  1. Neraca
  2. Laporan laba rugi
  3. Laporan perubahan ekuitas
  4. Laporan arus kas
  5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi   yang signifikan dan informasi.

Dimulai dengan analisa awal untuk mengetahui bagaimana penerapan standar pelaporan keuangan untuk UKM dilaksanakan, serta apakah UKM Penggilingan Padi sudah menerapkannya atau belum, kemudian dilanjutkan dengan membandingkan unsur-unsur laporan keuangan menurut SAK ETAP. Langkah akhir adalah menerapkannya dalam penyajian laporan keuangan yang seharusnya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Penerapan SAK ETAP dalam penyusunan laporan keuangan UKM Penggilingan Padi
  2. Kemampuan pengetahuan dasar akuntansi adalah responden yang menjawab Ya hanya 40%, sedangkan yang menjawab Tidak sebesar 60%. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak pelaku UKM yang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar tentang akuntansi. Sehingga mereka sulit untuk mengetahui kondisi keuangan dari usaha yang dikelola
  3. Pengumpulan Bukti Transaksi dilakukan oleh pelaku UKM memiliki hasil persentase 100% atas jawaban Ya, dan 0% untuk jawaban Tidak. Hal ini menunjukan bahwa pengumpulan bukti transaksi dilakukan oleh pelaku UKM
  4. Dalam hal membuat catatan tentang kegiatan usaha, responden yang menjawan Ya lebih mendominasi dengan persentase 75%, sedangkan yang menjawab Tidak sebesar 0%. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas pelaku UKM membuat catatan atas usahanya, dikarekan untuk mengetahui kegiatan selama melakukan proses jual-beli
  5. Dalam hal membuat pencatatan usaha dalam bentuk jurnal akuntansi di dominasi dengan jawaban Tidak sebesar 90 %, dibandingkan dengan jawaban Ya sebesar 10%. Hal tersebut menunjukan bahwa pelaku UKM masihbanyaknya pelaku UKM yang membuat jurnal atas transaksi yang terjadi, dan komentar mereka mengenai tersebut , terlalu rumit dan tidak punya waktu yang cukup sehingga mereka tidak membuat jurnal akuntansi
  6. Dalam hal membuat buku besar, dari jawaban responden, yang membuat buku besar hanya sebesar 10%, sedangkan yang menjawab Tidak membuat sebesar 90%.Hal tersebut menunjukan bahwa masih banyaknya pelaku UKM untuk melakukan ppencatatan akuntansi yang sesuai dengan siklus, karena kurangnya pengetahuan dari pelaku usaha
  7. Membedakan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan usaha, yang menjawab Ya sebesar 80% hal tersebut karena pelaku menghindari terjadinya kesalahan dalam mencatat keungan mereka, sedangkan 20% menjawab Tidak, karena mereka beranggapan terlalu rumit, sehingga mereka menganggap uang perusahaan itu termasuk uang mereka juga, sehingga tidak ada pengendalian pada kas UKM
  8. Komponen laporan keuangan yang disajikan selama ini, secara dominan di responden masih melakukan laporan laba rugi karena 100% menjawab Ya, sedangkan untuk komponen neraca dan laporan perubahan modal hanya sedikit yangg menyajikan. Hal tersebut dikarenakan pelaku UKM hanya ingin mengetahi laba/omset dari usaha yang dijalankan
  9. Penggunaan software akuntansi pada UKM didominasi oleh jawaban Tidak sebesar 85%, sedangkan 15% menjawab Ya. Hal tersebut menunjukan perkembangan teknologi yang digunakan sebagai penunjang kegiatan pencatatan keuangan masih kurang dikalangan UKM, sehingga pelaku UKM masih melakukan pencatatan secara manual dan sederhana.Sedangkan yang telah memakai software, pelaku UKM menggunakan MS Excel
  10. Membuat laporan keuangan, responden menjawab 40% pada keperluan internal dan keperluan eksternal, sedangkan untuk pelaporan ke Bank hanya 20%. Hal tersebut menunjukan bahwa pelaku UKM menggunakan laporan keuangan utnuk mengetahui keadaan dari usaha yang dijalankan, sedangkan keperluan eksternal digunakan untuk memudahkan para Investor dan Bank untuk membaca laporan keuangan, sehingga dapat membantu dalam penambahan modal untuk pengembangan usaha
  11. Secara dominan para pelaadanya kendala ku UKM masih banyak yang terkendala mengenai penerapan akuntansi yang baik dan benar, hal tersebut dikarenakan krangnya pengetahuan mereka mengenai akuntansi
  12. Laporan keuangan di dalam usaha mereka berpengaruh dalam menjalankan usaha meskipun mereka hanya membuat pencatatan laporan secara sederhana
  13. Pengetahuan pelaku UKM terhadap SAK ETAP, pada jawaban responden yang menjawab Ya sebesar 35%, sedangkan yang menjawab tidak sebesar 65%. Hal tersebut menujukan bahwa pelaku UKM masih terbatas mengenai pengetahuan tentang SAK ETAP
  14. Masih kurangnya pengetahuan dari respoden terhadap informasi SAK ETAP, karena hanya 35% yang mengetahui tentang informasi SAK ETAP untuk UKM. Sedangkan 65% tidak mengetahui informasi darimanapun
  15. Tidak adanya pelaku UKM yang mendapatkan sosialisasi/seminar mengenai SAK ETAP, sehingga membuat mereka terbatas pada pengetahuan akuntansi yang sederhana, tanpa mengikuti standar yang ada
  16. Pemahaman pelaku UKM mengenai isi dari SAK ETAP. Dari jawaban responden tidak ada yang memahami mengenai isi dari SAK ETAP, karena responden hanya sebatas mengetahui informasi mengenai SAK ETAP, sehingga tidak ada yang memahami mengenai isi dari SAK ETAP
  17. Penerapan akuntansi yang sesuai dengan SAK ETAP, dari jawaban Responden yang menjawab Belum sebesar 100%, sedangkan yang menjawab sudah 0%. Hal tersebut menunjukan bahwa pelaku UKM belum pelakukan penerapan akuntansi sesuai dengan Standar yang ada yaitu SAK ETAP, karena pelaku masih terbatas pengetahuan mengenai informasi mengenai SAK ETAP yang membuat mereka terkendala dalam menyajikan lapoeran keuangan yang sesuai dengan standar yang ada
  18. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP pada UMKM
  19. Faktor Internal Penyebab Gagalnya Penerapan SAK ETAP

UKM penggilingan padi berusaha membuat laporan keuangan sesimpel mungkin agar bisa di pahami oleh anggota koperasi dan pengguna laporan keuangan lainnya tanp harus sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan ETAP. Jadi latar belakang pendidikan pemakai laporan keuangan memiliki pengaruh yang bersar terhadap bentuk penyusunan pencatatan keuangan yang diterapkan oleh UKM penggilingan padi

  1. Faktor Eksternal Penyebab Gagalnya Penerapan SAK ETAP

Salah satu penyebab dari Penggilingan padi tidak melakukan pencatatan akuntansi berbasis SAK ETAP disebabkan pula karena tidak adanya pengawasan dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan UKM terutama dari pihak pemerintah, lembaga-lembaga terkait dan regulator. Padahal kepedulian terhadap pengembangan UKM sudah semestinya menjadi tanggung jawab semua pihak sesuai dengan bidang yang digelutinya. Sejalan dengan hal tersebut, Raharjo (1993) dalam Auliyah (2014) menyatakan tidak adanya regulasi yang mewajibkan penyunan laporan keuangan bagi UKM mengakibatkan rendahnya penyusunan laporan keuangan. Jadi perhatian dari pihak regulator terkait dengan peraturan yang mewajibkan penyusunan laporan keuangan bagi UKM sangat diperlukan.

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan:

  1. Dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan, serta uraian-uraian yang telah dikemukakan bahwa UKM Penggilingan Padi belum menerapkan SAK ETAP, laporan-laporan yang disajikan oleh UKM Penggilingan Padi hanya berupa Neraca dan Laporan Laba/Rugi saja, jelas kurang sesuai karena dalam prosedural pelaporan keuangan yang berdasarkan SAK ETAP  yaitu  Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas, Catatan Atas Laporan Keuangan. Maka dari itu penulis melakukan implementasi laporan keuangan sesuai dengan SAK ETAP agar UKM Penggilingan Padi dapat menerapkannya.
  2. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP pada UKM Penggilingan Padi:
    1. Keberadaan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang diperuntukan untuk usaha kecil dan menengah, keberadaannya belum banyak diketahui oleh para pemilik UKM dan masih rendahnya pemahaman  SAK ini. Kurangnya sosialisasi menjadi faktor utama kurang dikenalnya SAK ETAP dilingkungan UKM.
    2. Kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam menyusun laporan keuangan. Serta tidak pernah mengikuti pelatihan tentang pelaporan keuangan akuntansi.
    3. Tidak  adanya  pembagian  tugas  yang  jelas  antar  bidang  karena  pemilik  sekaligus menjadi  pengelola  usaha.  Pemilik  mengelola  usaha  sendiri, sehinga waktu  yang dimiliki  difokuskan  untuk  mengembangkan  usahanya.  Karyawan  hanya  diberikan otoritas  untuk  mengatasi  proses  produksi  dan  pencatatan  biaya.  Untuk  penyediaan proses  produksi dilakukan  langsung oleh  pemilik.
    4. Tidak adanya keharusan penggunaan SAK ETAP dari pemerintah.
    5. B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka kami selaku penulis memberikan beberapa saran.

  1. Mengingat besarnya manfaat yang bisa diperoleh dari penerapan akuntansi, kepada para pelaku UMKM yang belum menerapkan akuntansi agar mulai menerapkan akuntansi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
  2. Bagi stakeholder untuk ikut serta dalam mendukung dan mengawasi implementasikan SAK ETAP.
  3. Dukungan dan pengawasan ini tentunya akan membantu mendisiplinkan UMKM dalam melakukan pencatatan keuangan serta membantu pihak perbankan dalam menganalisis kelayakan usaha dan pihak fiskus dalam memenuhi administrasi perpajakan. Selain itu perlu adanya suatu badan pengawas yang khusus untuk mengawasi dan mengevaluasi implementasi dari SAK ETAP. Sehingga dengan adanya badan pengawas ini ke depannya seluruh UMKM yang ada di Indonesia dapat memnerapkan pencatatan keuangan berbasis SAK ETAP.

 

DAFTAR PUSTAKA

Benjamin, 1990. Laporan Keuangan (Ikhtisar Akuntansi) Perusahaan Kecil. Dalam. Dalam Prosiding. Seminar Akuntan Nasional. Surabaya.

Kieso, Donald. E.. and Weygandt. Jerry. J (terjemahan Herman Wibowo). 2011. Akuntansi Intermediate. Jakarta: Erlangga.

Krisdiartiwi. 2011. Pembukuan Sedarhana Untuk UMKM. Yogyakarta: Media Pressindo.

Mulya. 2010. Memahami Akuntansi Dasar. Mitra Wacana Media : Jakarta.

Patilima, Hamid, 2013. Metode Penelitian Kualitatif. cetakan kedua. Bandung. Penerbit Alfabeta.

Rudianto, 2014. Akuntansi Pengantar. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Soemarsono. 2014. Akuntansi: Suatu Pengantar. Edisi Kelima. Buku 1. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Sutrisno, Joko dan Sri. 2006. Jurnal Pengkajian Koperasi Dan Ukm Nomor 2 Pengkajian Koperasi Dan Ukm Nomor 2 Tahun I” - 2006 and Management Consultant Tahun 2014. Nusa Tenggara Barat.

Suhairi. 2014. Personality. Accounting Knowledge. Accounting Information Usage And Performance: A Research On Entrepreneurship Of Indonesia Medium Industries. Disertasi. USM. Malaysia.

 

 

 

 

 

 


 


Refbacks

  • There are currently no refbacks.