KAJIAN KARBON DAN HARA TANAH GAMBUT AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT

Rossie Wiedya Nusantara

Abstract


Alih fungsi hutan alami menjadi lahan pertanian, perkebunan dan hutan produksi dapat mengancam keberadaan ekosistem gambut alami dan berdampak terhadap lingkungan. Kerusakan lahan gambut terbesar terjadi melalui drainase dalam dan pembakaran tak terkendali. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan-perubahan hara dan C-organik tanah gambut akibat alih fungsi lahan. Lokasi kajian merupakan lahan gambut di Kabupaten Kubu-Kalimantan Barat dan terdapat 5 (lima) tipe gambut, yaitu hutan gambut primer (HP), hutan gambut sekunder (HS), semak belukar (SB), kebun sawit (KS) dan  kebun jagung (KJ). Analisis sampel tanah meliputi Nitrogen-total, Posfor-tersedia, Kalium-dd, Carbon organik tanah dan kadar abu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan dari hutan alami menjadi lahan pertanian dan semak belukar dan pengelolaan lahan menyebabkan penurunan P-tersedia (53,7%), K-dd (80,6 %), N-total (30,9%), C-organik (4,4%) dan peningkatan kadar abu tanah (81,5%). P-tersedia tanah gambut pada HP lebih tinggi daripada HS, KS, KJ, SB. K-dd pada HP lebih tinggi daripada SB, HS,KJ, KS. N-total pada HS lebih tinggi daripada SB, HP, KS, KJ. C-organik pada HP lebih tinggi daripada HS, SB, KS, KJ. . Perubahan penggunaan lahan berarti merubah ekosistem alami yang bersifat anaerob menjadi aerob sehingga mempercepat proses dekomposisi atau penguraian bahan organik dan pencucian hara  tanah gambut.


Keywords


hutan gambut tropika, kedalaman air tanah, hara tanah gambut, karbon tanah gambut, kondisi anaerob dan aerob

Full Text:

PDF PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Pedontropica