DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP SIFAT FISIK TANAH DAN EMISI KARBON GAMBUT TRANSISI DI DESA KANAMIT BARAT KALIMANTAN TENGAH

Fengky F. Adji

Abstract


Perubahan tata guna lahan gambut tropika sebagai lahan pertanian atau perkebunan akan menyebabkan terjadinya peningkatan emisi CO2 ke atmosfer. Pembukaan lahan gambut yang didahului dengan pembuatan saluran-saluran (drainase) akan menyebabkan muka air tanah di lahan gambut menjadi jauh letaknya dari permukaan, hal ini akan memacu laju dekomposisi bahan organic oleh jasad renik, yang pada akhirnya gambut menjadi rentan terbakar (fires). Oleh karena itu pengetahuan tentang emisi CO2 sangat penting untuk perencanaan sistem drainase, dalam rangka memelihara kelestarian gambut. Keseimbangan C dalam ekosistem gambut adalah sejumlah fluks atau kehilangan C, yang dipengaruhi oleh fluktuasi muka air tanah (water table) atau kandungan air tanah serta karakteristik gambut yang mengalami perubahan.

Metode atau pendekatan ilmiah dalam penelitian ini meliputi: pengkajian secara langsung, pengukuran berat isi tanah gambut, kadar air, kadar serat, kadar abu, pH tanah, hidrofobisitas, total mikroba, dan respirasi tanah yang mempengaruhi emisi atau fluks CO2.

Berdasarkan hasil penelitian berat isi tanah gambut berkisar 0,19 – 0,26 g cm-3, kadar air berkisar 200,57 – 339,75%, kadar serat berkisar 10,13 – 14,17%, kadar abu berkisar 3,39 - 11,69%, pH tanah berkisar 2,19 – 2,66, dengan rata-rata hidrofobisitas berkisar 8,76 – 23,13 detik, Nilai total mikroba tertinggi terdapat pada lahan semak belukar, yaitu sebesar 58,33 x 10-4 cfu g-1 dan terendah pada penggunaa lahan karet yaitu sebesar 13,17 x 10-4 cfu g-1, respirasi tanah berkisar 2,75 – 10,90 CO2 C kg hari-1, dengan tingkat kematangan gambut di lokasi penelitian adalah saprik. Kemudian hasil pengukuran emisi atau fluks CO2 pada berbagai penggunaan lahan yang berbeda, berkisar -3.151,4 – 69,6 g C m-2 h-1 dengan kedalaman muka air tanah berkisar -45,1 - -88,0 cm. Dimana emisi CO2 pada lokasi perkebunan karet sangat besar (69,6 g m-2 h-1 dengan kedalaman muka air tanah -88,0 cm) dibandingkan dengan lokasi perkebunan kelapa sawit (-2.041,3 g C cm-2 h-1 dengan kedalaman muka air tanah -73,0 cm) dan lokasi semak belukar (-3.151,4 g C cm-2 h-1 dengan kedalaman muka air tanah -45,1 cm).

Keywords


Gambut, penggunaan lahan yang berbeda, emisi atau fluks CO2, dan faktor lingkungan

Full Text:

PDF PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Pedontropica