VONIS PENJARA OLEH HAKIM TERHADAP KASUS PELECEHAN SEKSUAL YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DALAM PERSPEKTIF KEADILAN RESTORATIF (Studi Kasus Putusan Nomor: 98/Pid.Sus-Anak/2014/PN.SAG)

Jurnal Mahasiswa s2 Hukum Untan MARJUANDA SINAMBELA, S.H NPM. A2021151084

Abstract


ABSTRAK Tesis ini membahas tentang vonis penjara oleh hakim terhadap kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak dalam perspektif keadilan restoratif (studi kasus Putusan Nomor: 98/Pid.Sus-Anak/2014/PN.SGA). Di samping itu juga mempunyai tujuan yaitu untuk mengungkapkan dan menganalisis apakah Putusan Nomor: 98/Pid.Sus-Anak/2014/PN.SAG telah memberikan rasa keadilan bagi korban, terdakwa dan masyarakat dan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan terhadap kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak tersebut. Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis dengan pendekatan kasus (case approach) diperoleh kesimpulan, bahwa Putusan Hakim dalam perkara terdakwa atas nama Terdakwa SEBRI AMANDA SAPUTRA Alias SEBRI Bin PARIJAN, yang didakwa dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tidak memberikan keadilan bagi korban, masyarakat dan juga terdakwa, bahkan Putusan Hakim dalam perkara a quo tersebut mengabaikan asas kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of child) karena tidak menerapkan pendekatan keadilan restoratif (restorative justice).Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Hakim tidak menerapkan pendekatan keadilan restoratif dalam Putusan Hakim terhadap terdakwa atas nama SEBRI AMANDA SAPUTRA Alias SEBRI Bin PARIJAN, adalah: (a) korban masih di bawah umur dan tergolong anak-anak, sehingga perbuatan terdakwa dinyatakan bersalah; (b) aturan hukum tetap harus diperhatikan dan didahulukan serta tidak bisa disimpangi, kecuali ada pengecualian yang dibenarkan oleh undang-undang; dan (c) perdamaian yang dilakukan antara Terdakwa, korban dan masyarakat (keluarga) hanyalah sebagai alasan yang meringankan saja untuk mengurangi hukuman yang dijatuhkan. Dalam menjatuhkan putusan tersebut, Majelis Hakim mengalami kendala atau hambatan berupa: (a) Adanya pertentangan hati nurani dalam memberikan pertimbangan hukum terhadap perkara a quo karena terdakwa masih kecil dan dalam usia sekolah; dan (b) Pada saat penjatuhan pidana, belum diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sehingga Hakim mengacu kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, walaupun dalam kenyataannya tidak memberikan rasa keadilan bagi Terdakwa. Dengan kata lain, Hakim yang memutus perkara a quo lebih berpandangan kepada aturan-aturan belaka/aliran positivisme.
Kata Kunci: Vonis Penjara, Hakim, Kasus Pelecehan Seksual, Anak, Keadilan Restoratif.
ABSTRACT
This thesis discusses prison sentences by judges against child sexual abuse cases in the perspective of restorative justice (case study Decision Number: 98/Pid.Sus-Anak/2014/PN.SGA). In addition it also has a purpose that is to disclose and analyze whether Decision Number: 98 / Pid.Sus-Anak/2014/PN.SAG has provided a sense of justice for victims, defendants and the community and the factors that judge consideration in making decisions against Cases of sexual harassment committed by the child. Through literature study using sociological juridical method with case approach, it is concluded that Judge's decision in defendant's case on behalf of Defendant SEBRI AMANDA SAPUTRA Alias SEBRI Bin PARIJAN, who was charged with Article 82 of Law Number 23 Year 2002 regarding Protection The child does not provide justice for the victim, the community and the defendant, even the Judge's decision in the a quo case ignores the best interest of the child for not applying the restorative justice approach. Factors to be considered The judge did not apply the approach of restorative justice in the Judge's Decision on the defendant on behalf of SEBRI AMANDA SAPUTRA Alias SEBRI Bin Parijan, are: (a) victims are still under age and classified as children, so the defendant's actions are found guilty; (B) the rule of law must be kept in mind and precedence and can not be disregarded, unless there is an exception justified by law; And (c) the peace made between the Defendant, the victim and the community (the family) is merely a lightening reason to reduce the sentence imposed. In bringing down the verdict, the Panel of Judges encounters obstacles or obstacles in the form of: (a) The existence of conflict of conscience in giving legal consideration to a quo case because the defendant is still small and in school age; and (b) At the time of the criminal act, the enactment of Law Number 11 Year 2012 on the Criminal Justice System of the Child has resulted in the judge referring to Law Number 23 Year 2002 regarding Child Protection, although in reality it does not provide a sense of justice for the Defendant. In other words, the Judge who decides the a quo case is more concerned with the rules of positivism.
Keywords: Jail Verdict, Judge, Sexual Abuse Case, Child, Restorative Justice.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Diterbitkan Oleh: Program Magister Hukum Universitas Tanjungpura

ISSN: 0216-2091