PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PARKIR DI KAWASAN GEDUNG OLAH RAGA PANGSUMA KOTA PONTIANAK

SETIYOKO - A1012131051

Abstract


Minimal  : 1000 karakter              Untuk MAHASISWA PENGELOLAAN  DAN  PENYELENGGARAAN PARKIR  DI  KAWASAN  GEDUNG  OLAH  RAGA PANGSUMA KOTA PONTIANAK SETIYOKO fh_yoko@yahoo.com 081253800197 Penelitian  Hukum  NORMATIF / EMPIRIS *  Kota  Pontianak  yang  memiliki  luas  107,82  km²  didirikan  pada  tanggal  23 Oktober 1771 dibawah Garis Khatulistiwa didaerah tiga cabang sungai. Kota Pontianak juga dikenal dengan nama Khun Tien oleh etnis Tionghoa di Pontianak. Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang  dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas  yang  adalah  sungai  terpanjang  di  Indonesia.  Sungai  Kapuas  membelah  kota Pontianak, simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak. Letak Kota Pontianak memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan kota-kota  lain  yang  ada  di  Indonesia,  ini  dikarenakan  Kota  Pontianak  berada  di  posisi garis khatulistiwa yaitu 00 02’ 24” Lintang Utara sampai 00 05’ 37” Lintang Selatan dan 1090 16’ 25” Bujur Timur sampai 1090 23’ 24” Bujur Timur. Keunikan lainnya adalah Kota Pontianak berada tepat dipersimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan  Sungai  Landak  dengan  lebar  rata-rata  setiap  permukaan  sungai  ±  400  meter  dan kedalaman air antara 12 – 16 meter. Seperti pada umumnya daerah tropis, Kota Pontianak mempunyai suhu rata-rata 26,1 0C - 27,4 0C dengan kelembaban udara berkisar antara 86 % - 92 % serta lama penyinaran matahari berkisar antara 34%  - 78%. Kedudukan Kota Pontianak pada dataran delta di Muara Suangai Kapuas yang merupakan dataran rendah diaman  fluktuasi  ketinggian  antara  0,5  –  0,75  m  di  atas  permukaan  laut  menyebabkan Kota  Pontianak  rentan  terhadap  genangan  yang  disebabkan  air  pasang  maupun  hujan. Berdasarkan  UU  Nomor  23  Tahun  2014  tentang  Pemerintahan  Daerah,  dan  dengan pedoman  Peraturan  Pemerintah  Nomor  8  Tahun 2003  tentang  Pedoman Organisasi dan Perangkat  Daerah,  penataan  kelembagaan  di  lingkungan  Pemerintah  Kota  Pontianak meliputi 2 (dua) Sekretariat, 4 (empat) Badan, 13 (tiga belas) dinas, 4 (empat) Kantor dan 1 (satu) Satuan dan didukung oleh Pemerintah Kecamatan sebanyak 6 (enam) Kecamatan dan 29 (dua puluh sembilan) Pemerintah Kelurahan. Kota Pontianak dibagi menjadi enam kecamatan, yaitu Kecamatan Pontianak Utara,  Kecamatan  Pontianak  Barat,  Kecamatan  Pontianak  Kota,  Kecamatan  Pontianak Selatan,  Kecamatan  Pontianak  Tenggara  dan  Kecamatan  Pontianak  Timur.  Kecamatan Pontianak  Selatan  yang  merupakan  bagian  dari  Kota  Pontianak  memiliki  kemajuan pembangunan  yang  cukup  pesat  diikuti  dengan  pertambahan  Jumlah  penduduknya. Jumlah penduduk di Kota Pontianak setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, hal ini perlu disikapi dengan sebaik-baiknya.  Pertumbuhan  dan  perkembangan  masyarakat  selalu  seiring  dengan  semakin tumbuh dan berkembangnya segala aspek kebutuhan, termasuk dari segi kebutuhan akan kenyamanan  dan  keamanan.  Perkembangan  kemajuan  masyarakat  yang  cukup  pesat, seiring  dengan  merebaknya  tuntutan  akan  penegakan  supremasi  hukum,  hak  asasi manusia,  globalisasi,  demokratisasi  dan  transparansi  yang  telah  melahirkan  paradigma baru dalam melihat tujuan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab bagi pihak-pihak yang terkait. Seiring  dengan  bertambahnya  jumlah  penduduk  dan  meningkatnya kepemilikan kendaraan di perkotaan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kegiatan  manusia  didalamnya  terutama  pada  kawasan  yang  memiliki  persentase  yang tinggi  atas  kegiatan  perdagangan  dan  komersial.  Tarikan  pergerakan  kendaraan  yang terjadi  sudah  pasti  diawali  dan  diakhiri  di  tempat  parkir.  Kondisi  yang  semacam  ini tentunya akan membutuhkan ruang parkir yang memadai. Masalah parkir juga merupakan masalah yang dialami oleh kota-kota besar di dunia.  Masalah  parkir  ini  jika  tidak  ditangani  dengan  baik  akan  memperparah  masalah kemacetan lalu-lintas, maka untuk menanganinya di perlukan kebijakan dan pengelolaan perparkiran. Pada dasarnya kebijakan pengelolaan perparkiran dalam rangka pengendalian parkir memiliki dua fungsi sebagai pengontrol aktivitas pergerakan dan lalu-lintas, serta pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. Hal ini disebabkan perparkiran merupakan bagian yang penting dalam manajemen lalu-lintas. Luas total kawasan di sekitar GOR Pangsuma mencapai 28,8 hektare. Dari jumlah yang ada,  seluas  22,4  hektare  pengelolaannya  diserahkan  kepada  Dispora  Provinsi  Kalbar, sedangkan sisanya 6,4 hektare dikerjasamakan dengan pihak ketiga.Dengan diserahkannya pengelolaan kawasan tersebut ke Dispora Provinsi Kalbar. Wilayah Gedung Olahraga Pangsuma menjadi pusat kegiatan masyarakat Kota Pontianak pada umumnya. Setiap akhir pekan pada pagi hari mayoritas masyarakat Kota Pontianak berkumpul di sekitaran Gedung Olahraga Pangsuma untuk melakukan berbagai kegiatan,  dari  olahraga,  sekedar  sarapan  hingga  berjualan.  Untuk  menuju  ke  GOR Pangsuma  tentulah  masyarakat  menggunakan  kendaraan  bermotor  dari  kediamnnya masing-masing, ada yang menggunakan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua atau sepeda motor. Kendaraan yang diparkirkan tentu akan berantakan jika tidak ada juru parkir  yang  mengaturnya.  Namun  ada  saja  oknum  yang  memanfaatkan  kegiatan masyarakat tersebut dengan menarik biaya parkir diluar ketentuan.  Berdasarkan  Peraturan  Daerah  Kota  Pontianak  No.  4  Tahun  2011  tentang Retribusi Jasa Umum, bahwa ketentuan tarif parkir motor (roda dua) sebesar Rp.1.000, mobil  (roda  empat)  Rp.2.000  dan  mobil  (roda  enam)  Rp.4.000.  Namun    faktanya masyarakat  Kota  Pontianak  yang  melakukan  kegiatannya  di  sekitaran  wilayah  Gedung Olah Raga Pangsuma pada hari Minggu pagi yang memarkirkan sepeda motornya mesti membayar  Rp  2000,-  setiap  memarkirkan  kendaraanya.  Hal  ini  tentu  telah  menyalahi peraturan  yang  ada  padahal  Kota  Pontianak  telah  menetapkan  Peraturan  Daerah  Kota Pontianak No. 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum yang dengan jelas mengatur tentang tarif parkir.     Meskipun Kawasan Gedung Olah Raga Pangsuma dikelola oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalbar, seharusnya tarif parkir yang ada disesuaikan dengan tarif dimana  Gedung  Olah  Raga  itu  berada  yaitu  di  Kota  Pontianak  sehingga  tarif  parkir  di wilayah Gedung Olah Raga Pangsuma tidak boleh melebihi dari Peraturan Daerah Kota Pontianak No. 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Berdasarkan latar belakang permasalahan  diatas,  maka  Peneliti  tertarik  untuk  meneliti  dan  mengungkap  fakta  serta menuangkannya  dalam  suatu  Skripsi  dengan  judul:  “PENGELOLAAN  DAN PENYELENGGARAAN  PARKIR    DI  KAWASAN  GEDUNG  OLAH  RAGA PANGSUMA KOTA PONTIANAK ” Bertitik  tolak  dari  uraian  latar  belakang  penelitian  di  atas,  maka  yang  menjadi permasalahan  dalam  penelitian  ini  adalah  sebagai  berikut  :  “Apakah  Pengelolaan  Dan Penyelenggaraan  Parkir  Di  Kawasan  Gedung  Olah  Raga  Pangsuma  sudah  berjalan sebagaimana mestinya?” Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut Untuk  mengetahui  pelaksanaan  Pengelolaan  Dan  Penyelenggaraan  Parkir  Di  Kawasan Gedung Olah Raga Pangsuma dan Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pelaksanaan Pengelolaan  Dan  Penyelenggaraan  Parkir  Di  Kawasan  Gedung  Olah  Raga  Pangsuma belum berjalan sebagaimana mestinya. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia  tahun 1945 di dalam  Pasal 1 ayat (3) menjelaskan  dengan tegas bahwa Negara  Indonesia adalah Negara Hukum,  maka salah satu prinsip penting negara hukum adalah adanya jaminan kesederajatan bagi setiap  orang    di  hadapan  hukum.  Adalah  cukup  untuk  membuat  sebuah  program  dan kebijakan umum yang kelihatanya bagus di atas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam  kata-kata  dan  slogan-slogan  yang  kedengarannya  mengenakan  bagi  telinga  para pemimpin  dan  para  pemilih  yang  mendengarkannya.  Dan  lebih  sulit  lagi  untuk melaksanakannya  dalam  bnetuk  cara  yang  memuaskan  semua  orang.  Dari  pernyatan  di atas bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya penerapan atau implementasi kebijakan yang sifatnya umum. Akan tetapi dalam sebuah kebijakan tentunya ada objek dan subjek yang berperan dalam pelaksanaan peraturan daerah tentang pengelolaan dan penyelenggaraan parkir. Berdasarkan  uraian  di  atas,  maka  penulis  merumuskan  hipotesis  sebagai jawaban sementara atas masalah penelitian yang harus dibuktikan kebenarannya. Adapun rumusan hipotesis tersebut adalah sebagai berikut: “Bahwa pelaksanaan Pengelolaan Dan Penyelenggaraan  Parkir  Di  Kawasan  Gedung  Olah  Raga  Pangsuma  belum  optimal dilaksanakan karena faktor kurangnya pengawasan.”  Kata kunci : Pngelolaan Parkir, Gedung Olahrag Pangsuma dan Pengawasan

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Powered By : Team Journal - Faculty of Law - Tanjungpura University 2013