PELAKSANAAN PASAL 9 HURUF G PERATURAN PEMERINTAH NO 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA POLRI TERKAIT ANGGOTA POLRI YANG MENEMPATI TEMPAT KHUSUS PALING LAMA 21 HARI DI POLRESTA PONTIANAK KOTA

ABDUL GAFUR - A1012131061

Abstract


Pelaksanaan  pembangunan  nasional  memerlukan  sarana  dan  prasarana  harus didukung  dengan  situasi  keamanan  yang  kondusif.  Keamanan  yang  diperlukan  dalam menunjang  dan  membantu  pembangunan,  yang  meliputi  keamanan  dalam  maupun  luar negeri.  Keamanan  dalam  negeri  dilakukan  melalui  penyelenggaraan  fungsi  kepolisian yang  meliputi  penegakan  hukum,  pemeliharaan  keamanan  dan  ketertiban  masyarakat, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) selaku aparat negara. Peranan ini hanya mungkin dapat dilaksanakan  dalam  fungsi  kepolisian  sesuai  dengan  Undang-Undang  Nomor  2  Tahun 2002  Tentang  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia.  Oleh  karena  itu  selaku  aparat negara,  Polri  yang  diberikan  tugas  dan  tanggungjawab  oleh  Undang-undang  harus bertindak  sesuai  dengan  Kode  Etik  Polri  dan  berdisiplin  tinggi  sesuai  dengan  amanat Undang-undang. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang belakangan ini terus diuji citranya akibat diterpa berbagai kasus-kasus seperti penyuapan, korupsi, HAM dan berbagai kasus lainnya yang berkhubungan dengan Kode Etik dan disiplin Polri. Kasus – kasus tersebut terus  bermunculan  seperti  tidak  ada  habisnya,  karena  belum  tuntas  satu  kasus,  muncul kasus baru. Kasus-kasus internal yang muncul dalam tubuh Kepolisian, saat ini juga masih banyak terjadi. Saat ini opini masyarakat yang berkembang bahwa menganggap terkesan seolah setiap kasus intern anggota Polri yang melibatkan anggota polisi adianggap dapat di “peti es” kan sampai dan tidak sampai ke persidangan. Namun  berdasarkan  Undang-Undang  No.  2  Tahun  2002  tentang  Kepolisian Republik  Indonesia,  tergambar  dengan  jelas  tugas  pokok  anggota  Polri.  Polri  dalam pelaksanaan tugasnya memiliki kendala dan hambatan baik  segi internal maupun dari segi eksternal.  Penyimpangan  perilaku  anggota  Polri  tersebut  di  atas  adalah  merupakan pelanggaran  terhadap  peraturan  disiplin  anggota  Polri  sebagaimana  yang  diatur  dalam Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  No  2  Tahun  2003  tentang  Peraturan  Disiplin Anggota Polri. Selain  tunduk  pada  Peradilan umum,  Kepolisian  juga tunduk pada  Peradilan Komisi  Kode  Etik  dan  Peradilan  Disiplin  Polri.  Upaya  pemerintah  dalam  penegakan hukum  di  Intern  Polri  anggota  Polri  yang  melanggar  Disiplin  dilakukan  dengan mengesahkan  Peraturan  Pemerintah  RI  No  2  tahun  2003  tentang  Peraturan  Disiplin Anggota  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia.  Dengan  disahkannya  aturan  tersebut, anggota Polri yang melanggar disiplin akan dikenakan sanksi berupa hukuman Disiplin. Beberapa hukuman disiplin diberikan bagi anggota Polri yang melanggar disiplin, telah diatur pada Pasal 9 Peraturan Pemerintah RI No 2 tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin  Anggota Polri. Hukuman disiplin tersebut antara lain : a.  teguran tertulis b.  penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 (satu) tahun;   c. penundaan kenaikan gaji berkala;   d. penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun; e. mutasi yang bersifat demosi;   f. pembebasan dari jabatan;    g. penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 (dua puluh satu) harin  dalam  maupun  luar negeri.  Keamanan  dalam  negeri  dilakukan  melalui  penyelenggaraan  fungsi  kepolisian yang  meliputi  penegakan  hukum,  pemeliharaan  keamanan  dan  ketertiban  masyarakat, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) selaku aparat negara. Peranan ini hanya mungkin dapat dilaksanakan  dalam  fungsi  kepolisian  sesuai  dengan  Undang-Undang  Nomor  2  Tahun 2002  Tentang  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia.  Oleh  karena  itu  selaku  aparat negara,  Polri  yang  diberikan  tugas  dan  tanggungjawab  oleh  Undang-undang  harus bertindak  sesuai  dengan  Kode  Etik  Polri  dan  berdisiplin  tinggi  sesuai  dengan  amanat Undang-undang. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang belakangan ini terus diuji citranya akibat diterpa berbagai kasus-kasus seperti penyuapan, korupsi, HAM dan berbagai kasus lainnya yang berkhubungan dengan Kode Etik dan disiplin Polri. Kasus – kasus tersebut terus  bermunculan  seperti  tidak  ada  habisnya,  karena  belum  tuntas  satu  kasus,  muncul kasus baru. Kasus-kasus internal yang muncul dalam tubuh Kepolisian, saat ini juga masih banyak terjadi. Saat ini opini masyarakat yang berkembang bahwa menganggap terkesan seolah setiap kasus intern anggota Polri yang melibatkan anggota polisi adianggap dapat di “peti es” kan sampai dan tidak sampai ke persidangan. Namun  berdasarkan  Undang-Undang  No.  2  Tahun  2002  tentang  Kepolisian Republik  Indonesia,  tergambar  dengan  jelas  tugas  pokok  anggota  Polri.  Polri  dalam pelaksanaan tugasnya memiliki kendala dan hambatan baik  segi internal maupun dari segi eksternal.  Penyimpangan  perilaku  anggota  Polri  tersebut  di  atas  adalah  merupakan pelanggaran  terhadap  peraturan  disiplin  anggota  Polri  sebagaimana  yang  diatur  dalam Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  No  2  Tahun  2003  tentang  Peraturan  Disiplin Anggota Polri. Selain  tunduk  pada  Peradilan umum,  Kepolisian  juga tunduk pada  Peradilan Komisi  Kode  Etik  dan  Peradilan  Disiplin  Polri.  Upaya  pemerintah  dalam  penegakan hukum  di  Intern  Polri  anggota  Polri  yang  melanggar  Disiplin  dilakukan  dengan mengesahkan  Peraturan  Pemerintah  RI  No  2  tahun  2003  tentang  Peraturan  Disiplin Anggota  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia.  Dengan  disahkannya  aturan  tersebut, anggota Polri yang melanggar disiplin akan dikenakan sanksi berupa hukuman Disiplin. Beberapa hukuman disiplin diberikan bagi anggota Polri yang melanggar disiplin, telah diatur pada Pasal 9 Peraturan Pemerintah RI No 2 tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin  Anggota Polri. Hukuman disiplin tersebut antara lain : a.  teguran tertulis b.  penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 (satu) tahun;   c. penundaan kenaikan gaji berkala;   d. penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun; e. mutasi yang bersifat demosi;   f. pembebasan dari jabatan;    g. penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 (dua puluh satu) hari Minimal : 1000 karakter     Dalam  rangka  memelihara  kehidupan  bernegara  dan  bermasyarakat,  anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dilarang: 1.  Melakukan  hal-hal  yang  dapat  menurunkan  kehormatan  dan  martabat  negara, pemerintah, atau Kepolisian Negara Republik Indonesia 2. Melakukan kegiatan politik praktis.  3. Mengikuti aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. 4.  Bekerjasama dengan orang lain di dalam atau diluar lingkungan kerja dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan kepentingan negara.  5. Bertindak selaku perantara bagi pengusaha atau golongan untuk mendapatkan pekerjaan atau  pesanan  dari  kantor  /  instansi  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia  demi kepentingan pribadi. 6.    Memiliki  saham  /  modal  dalam  perusahaan  yang  kegiatan  usahanya  berada  dalam ruang lingkup kekuasaan.  7. Bertindak sebagai pelindung di tempat perjudian, prostitusi, dan tempat hiburan.  8. Menjadi penagih pirutang atau menjadi pelindung orang yang punya hutang. 9. Menjadi perantara / makelar perkara.  10. Menelantarkan keluarga. Diantara  hukuman  disiplin  bagi  anggota  Polri  pada  Pasal  9  pada  huruf  g  , Peraturan Pemerintah RI No 2 tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri yakni penempatan  dalam  tempat  khusus  paling  lama  21  (dua  puluh  satu)  hari.    Dalam pelaksanaan  hukuman  tersebut  sering  tidak  dilakukan  secara  maksimal  kepada  anggota Polri yang memang sudah divonis hukuman tersebut dalam sidang disiplin anggota Polri. Padahal  pada  tahun  2014  terdapat  14  anggota  yang  divonis  hukuman  disiplin  yakni penempatan dalam tempat khusus paling  lama 21 (dua puluh satu) hari dan tahun 2015 terdapat 7 anggota yang divonis hukuman disiplin yakni penempatan dalam tempat khusus paling  lama  21  (dua  puluh  satu)  hari.  Namun hukuman  tersebut dalam pelaksanaannya terhadap anggota Polri yang melanggar belum terlaksana secara maksimal, sehingga saat ini  dirasakan  masih  jauh  dari  harapan  dan  memberikan  dampak  positif  bagi  perilaku anggota  Polri.  Adanya  rasa  jiwa  korsa  antar  anggota  Polri  membuat  proses  dan implementasi  hukuman  penempatan  di  tempat  khusus  selama  21  hari  belum  terlaksana sebagaimana mestinya. Kendala  dan  hambatan  secara  intern  dalam  tubuh  Polri  diantaranya  adalah masalah Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan  membahas  masalah    tersebut  dalam  bentuk  tulisan  ilmiah  (Skripsi)  dengan  judul  : “PELAKSANAAN  PASAL  9  PERATURAN  PEMERINTAH  NO  2  TAHUN  2003 TENTANG  PERATURAN  DISIPLIN  ANGGOTA  POLRI  TERKAIT  ANGGOTA POLRI  YANG  MENEMPATI  TEMPAT  KHUSUS  PALING  LAMA  21  HARI  DI POLRESTA PONTIANAK KOTA.” Bertitik  tolak  dari  uraian  latar  belakang  penelitian,  maka  yang  menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimana Pelaksanaan Pasal 9  Peraturan  Pemerintah  No  2  Tahun  2003  Tentang  Peraturan  Disiplin  Anggota  Polri Terkait Anggota Polri Yang Menempati Tempat Khusus Paling Lama 21 Hari Di Polresta Pontianak Kota? Adapun  yang  menjadi  tujuan  penelitian  dalam  penulisan  skripsi  ini  adalah sebagai berikut:1. Untuk mengetahui data pelanggaran disiplin dan jenis hukuman disiplin kepada anggota Polri yang menempati tempat khusus selama 21 hari di Polresta Pontianak Kota. 2.Untuk mengungkapkan faktor  – faktor yang menjadi penyebab hukuman dalam penempatan  tempat  khusus  tidak  dijalankan  sebagaimana  dengan  mestinya.  3.  Untuk mengetahui  upaya  dilakukan dalam rangka  mengoptimalkan hukuman disiplin anggota Polri yang di tempatkan dalam tempat khusus selama 21 hari. Peraturan Pemerintah pada dasarnya pengertiannya terkandung dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Kesatuan RI tahun 1945 yang menyebutkan bahwa “Presiden  menetapkan  Peraturan  Pemerintah  untuk  menjalankan  Undang-undang sebagaiman  mestinya”.  Berdasarkan  ketentuan  ini  Peraturan  Pemerintah  dibuat  oleh Presiden  hanya  untuk  melaksanakan  Undang-undang.  Tujuan  hukuman  disiplin  adalah untuk  memperbaiki  dan  mendidik  anggota  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia  yang melakukan  pelanggaran  disiplin.  Oleh  sebab  itu  setiap  Ankum  wajib  memeriksa  lebih dahulu dengan seksama Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang melakukan pelanggaran disiplin.  Pengertian Disiplin berasal dari bahasa latin Discipline, yang berarti instruksi. Menurut  Peraturan  Pemerintah  Nomor  2  tahun  2003,  Disiplin  adalah  “ketaatan  dan kepatuhan yang sungguh-sungguh terhadap peraturan disiplin anggota Kepolisian Negara Republik  Indonesia”.  Berbeda  dengan  hukuman  dalam  perbuatan  pidana,  Hukuman disiplin yang dijatuhkan haruslah setimpal dengan pelanggaran disiplin yang dilakukan, sehingga  hukuman  disiplin  itu  dapat  diterima  oleh  rasa  keadilan.  Selain  itu  dalam pelaskanaannya  harus  dilakukan  pengawasan  oleh  Ankum  selaku  atasan  yang  berhak memberikan hukuman. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Metode Deskriptif Analisis, yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan dengan menggambarkan dan menjelaskan gejala-gejala yang tampak pada saat penelitian dilakukan “Bahwa Pelaksanaan Pasal 9 Peraturan Pemerintah No 2 Tahun 2003 Tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri Terkait Anggota Polri Yang Menempati Tempat Khusus Paling  Lama  21  Hari  Dipolresta  Pontianak  Kota  Belum  Dilaksanakan  Sebagaiamana Mestinya  Dikarenakan  Kurangnya  Pengawasan  Oleh  Ankum  Polri  dan  Kurangnya Layaknya Ruangan Khusus yang Digunakan Untuk Hukuman Disiplin.“  Kata kunci : Peraturan pemerintah, Anggota Polri dan Hukuman disiplin

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Powered By : Team Journal - Faculty of Law - Tanjungpura University 2013