GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGANKEJADIAN HIPERTENSI INTRADILITIK PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD DR. ABDUL AZIZ SINGKAWANG

Venny Romian Utari Sinaga .

Abstract


Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar ≥ 10 mmHg pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisis dikenal dengan istilah hipertensi intradialitik. Usia, riwayat hemodialisis, durasi hemodialisis, jumlah obat antihipertensi serta adanya jenis obat antihipertensi yang hilang secara intesif dan tidak intensif merupakan hal yang diindikasi sebagai faktor risiko penyebab terjadinya hipertensi intradialitik. Penelitan ini bertujuan untuk menentukan gambaran penggunaan antihipertensi dan karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami hipertensi intradialitik. Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan pada periode Juli-Agustus 2015. Subyek penelitian diperoleh sebanyak 10 pasien. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien (50%) yang mengalami kejadian hipertensi intradialitik. Karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami kejadian hipertensi intradialitik berdasarkan usia < 60 tahun (60%), riwayat hemodialisis < 12 bulan (60%), durasi hemodialisis < 3,5 jam (80%), dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2 (60%). Penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan kejadian hipertensi intradialitik adalah golongan ARB, beta bloker, diuretik dan vasodilator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi intradialitik didominasi oleh pasien dengan usia < 60 tahun, lama hemodialisis < 12 bulan, durasi hemodialisis < 3,5 jam dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2.  Jenis antihipertensi yang paling sering digunakan adalah kombinasi golongan ARB dan Diuretik.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.